Kamis, 17 Maret 2011

Konflik kultur antara Pasoepati dan Brajamusti

Di Eropa, sepakbola sudah menjadi industri yang sangat menguntungkan. Klub-klub sepakbola Eropa seperti Juventus, Manchester United, Real Madrid, dan lain-lain sudah menjadikan olahraga ini sebagai ladang uang yang sangat menguntungkan. Salah satu faktor paling penting di sepakbola Eropa adalah suporternya. Klub sepakbola Eropa bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan tiket dan seragam klub oleh para suporternya.
Berbanding terbalik di Indonesia, suporter di Indonesia justru di vonis memperburuk citra sepakbola dan dianggap problem bangsa. Tindak kekerasan, kerusuhan, dan jatuhnya korban baik luka dan tewas merupakan citra buruk yang melekat pada suporter sepakbola Indinesia.
Hadirnya kelompok suporter atraktif yang dirintis oleh Aremania (PS Arema) dan kemudian Pasoepati (Solo) yang juga menularkan ke daerah-daerah lain di Indonesia seperti Sleman (Slemania), Jakcmania (Jakarta), Macz Man (Makassar),dll menjadi fenomena baru bagi industri perkembangan suporter Indonesia.
Yang menarik di Indonesia ada seperti sebuah pengkotak-kotakan suporter. Blok pertama di wakili dengan Aremania, Pasoepati, The Jak. Sedangkan Blok lainnya adalah Bonek, Viking, Sakeramania. Suka atau tidak memang demikianlah sebenarnya peta persuporteran Indonesia dan ini membuat setidaknya stagnasi dalam persepakbolaan kita. Misalnya Bonek bertandang ke Jogja, maka secara Geografis dia akan melewati Solo yang notabene merupakan “kongsi” Aremania dan The Jak yang secara tidak langsung potensi kerusuhan ada.
Lalu bagaimana dengan Brajamusti (Jogja) dengan Pasoepati (Solo)? Peristiwa memerahkan mandala krida yang berbuntut hancurnya mobil-mobil yang ber Plat AD dan juga kerusuhan ketika PSIM bertanding di Manahan membuat hubungan kedua organisasi suporter yang sebenarnya punya keterikatan budaya ini menjadi tidak akur. Ada saling dendam yang sampai sekarang belum terdamaikan.Berangkat dari permusuhan Brajamusti (Jogja) dan Pasoepati (Solo) yang seharusnya bersaudara karena keterikatan budaya ini membuat peneliti ingin melakukan kajian akademis tentang konflik dan steoritipe multikultur kedua suporter tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Lainnya