Selasa, 26 April 2011

Stop Kekerasan Dan “Blok” Suporter Indonesia!


Suporter Sudah Saatnya Bersatu.*

Kekerasan di dunia sepakbola Indonesia kembali terjadi, salah satu anggota singaperbangsa mania (sipermania) tewas mengenaskan karena bagian depan kepalanya disabet samurai oleh salah seorang dari belasan pemuda yang mencegat rombongan korban yang pada saat itu sedang mengawal kepulangan Aremania, di Jalan raya A. Yani, depan Kantor Perdagangan Karawang, Minggu malam.

Muhammad Azis alias Sijalu bin Enjun Junaedi, 13, warga Kampung Jatirasa RT 14 RW 01 Kelurahan Karangpawitan, Karawang Barat, yang juga merupakan salah satu admin dari sipermania cyber, Senin pagi pukul 08:00, tewas ketika dalam perawatan di ruang UGD RSUD Karawang, setelah semalam sempat di rawat di RSU Bayukarta, Karawang.

Kekerasan suporter sepak bola seolah telah menjadi fenomena yang menyita perhatian sebagaian besar masyarakat belakangan ini. Tindakan pendukung sepakbola yang “membajak” dan menjejali gerbong kereta hingga di atas atap, berkelahi dengan brutal, merusak fasilitas-fasilitas umum, menghancurkan dan membakar properti-properti pribadi seperti mobil dan rumah-rumah, “perampokan” warung-warung dan toko-toko, merupakan ironi dari semangat olahraga (sepakbola) yang menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas.

Sepakbola sebagai cabang olahraga terpopuler di dunia seolah terus-menerus memiliki wajah seram. Bahkan di Indonesia, kekerasan boleh dikatakan telah begitu rupa mengambil alih wajah persepakbolaan nasional secara umum sehingga hampir-hampir mustahil untuk menghapusnya.

Sebenarnya kekerasan suporter sepakbola tak bisa dilepaskan begitu saja dari semangat kesukuan masa lalu yang diwariskan ke genarasi hari ini sebagai sisi-sisi gelap tersembunyi dalam diri manusia, baik sebagai individu maupun masyarakat sosial. Watak kekerasan yang diwaris dari masa tribalisme bukanlah satu-satunya akar. Campurtangan kepentingan politik dalam penyelenggaraan roda kompetisi maupun pengelolaan klub juga menjadi faktor penting sebagai penyulut terjadinya kekerasan.

Pengaruh kekuatan politik tertentu ini secara nyata tampak pada pasang naik-surutnya dukungan Pemerintah Daerah kepada kesebelasan kota seiring dengan pergantian dominasi politik. Hal ini juga dapat dilacak dari negosiasi-negosiasi (transaksi-transaksi politik) sangsi yang dijatuhkan oleh PSSI.

Sikap ketidakpatuhan terhadap aturan-aturan ini merupakan cermin langsung dari tidak profesionalnya pengelolaan kompetisi dan klub. Sikap ketidakpatuhan para pengelola inilah yang merembet atau menulari para suporter. Oleh karenanya, pengelolaan profesional sepakbola (industrialisasi sepakpola) dalam kompetisi yang didengung-dengungkan pada kenyataannya hanya bersifat semu.

Kekerasan suporter sepakbola sebenarnya bisa diredam atau diminimalisir dengan komunikasi budaya antar suporter, hal ini menjadi bermanfaat secara maksimal jika yang melakukan komunikasi ini benar-benar representasi dari kelompok-kelompok suporter. Dalam hal ini antara kelompok-kelompok suporter yang formal dengan kelompok-kelompok suporter yang kultural atau mereka yang sungguh-sungguh mampu menggerakan dan mengendalikan suporter.
Akhir kata, mengutip pernyataan Helmi Atmaja, salah satu pentolan suporter Jateng-DIY di Jakarta (Joglosemar), bahwa tiap kelompok supporter jika mempunyai rival adalah wajar, namun akan menjadi tak wajar ketika harus berkelompok dan berkoalisi untuk saling memusuhi siapa saja yang menjadi lawan koloni kita. Musuhmu bukan musuhku kawanmu bukan kawanku namun kita tetap bersaudara!! Stop BLOK SUPORTER di INDONESIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Lainnya