Rabu, 20 April 2011

PERTEMPURAN Real Madrid dan Barcelona di final Copa del Rey

PERTEMPURAN Real Madrid dan Barcelona di final Copa del Rey sejarah mencatat berlangsung lima kali. Dua di antaranya dimenangkan Los Merengues pada tahun 1936 dan 1974, sementara Blaugrana berpesta tiga kali pada tahun 1968, 1983 dan 1990.

Keberpihakan sejarah terjadi di tahun 1974. Saat itu Los Blancos dihancurkan Catalan dengan skor 5-0 berkat gol Juan Manuel Asensi dan sisanya dicetak Johan Cruyff, Juan Carlos dan Hugo Sotil. Hebatnya kemenangan telak ini dirayakan di Santiago Bernabeu.

Tetapi situasi berbeda ketika mereka kembali bertemu di final Copa. Cruyff dan Sotil dipaksa absen karena aturan pembatasan pemain asing dan Real Madrid menuntaskan dendam dengan menghancurkan Barcelona 4-0 berkat gol Santilana, Benito Rubinan, Francisco Aguilar dan Pirri.

Sedangkan partai final CDR kali ini sekaligus episode ketiga El Clasico. Pada episode pertama yang digelar 29 Nov 2010, Barcelona menang mutlak 5-0 atas Real Madrid. Pada episode kedua pada 16 Apr, perjamuan Real Madrid atas Barcelona berakhir seri.

Pada dua episode el clasico yang digelar dimasing-masing markas kesebelasan, membuktikan skuad besutan Josep ‘Pep’ Guardiola masih unggul. Pasalnya mampu membukukan angka kemenangan mutlak. Lalu bagaimana hasil pertempuran mereka ketigakalinya saat digelar di medan laga netral, di stadion Mestalla markas klub Valencia nanti?

Pertemuan ketiga Barcelona kontra Real Madrid musim ini yang menjadi pertaruhan perebutan trofi perdana musim ini, Copa Del Rey. Berdasar hasil lima pertemuan terakhir dalam laga kompetisi La Liga, El Barca membuktikan sebagai tim yang tanpa tanding. Berhasil membukukan empat kemenangan atas El Real, sementara satu pertandingan berakhir seri.

Laga final Copa Del Rey menjadi lebih menarik adalah pertemuan keduanya yang sudah cukup usang. Terakhir kedua tim bertemu adalah pada 1989/90. Saat itu El Barca berhasil mengalahkan Madrid dengan sekor 2-0. Menariknya juga, saat itu laga final pun digelar di Kota Valencia, meski bukan di Stadion Mestalla melainkan Stadion Luis Castanova.

Kekalahan pada pertemuan terakhir itu, ditambah luka saat dipecundangi lima gol tanpa balas di Camp Nou pada pertemuan pertama di Liga Spanyol jelas memperkuat ambisi El Real untuk merebut trofi Copa Del Rey. Apalagi, sudah 17 tahun mereka belum pernah merasakan merengkuh trofi tersebut.

Namun tidak demikian yang berkembang di peta perjudian bola di Eropa dan Amerika. Mayoritas rumah judi menempatkan El Barca sebagai kandidat pemenangnya. Skor taruhan yang berkembang ¼ banding 0 untuk kemenangan Barca. Para penjudi tidak memperhatikan hasil ramalan gurita Iker yang menjagokan Real Madrid.

“Dunia judi adalah dunia fakta. Ramalan Iker hanyalah hiburan. Awalnya kami mempercayai dia, tapi setelah melihat peletakan bendera El Real di atas El Barca, maka kami sadar jika ramalan iker hanyalah cara sensasi,” kata Ronald Espicosa, salah satu jutawan di Inggris yang gemar judi bola dunia, seperti dikutip The Sun.

Perkembangan taruhan yang berpihak pada Barca, ternyata sempat membuat bintang andalan Madrid, Cristiano Ronaldo bimbang. Ia tidak memiliki bayangan, kalau saja Madrid tanpa gelar juara selama dua sampai tiga tahun. Sebab yang dibicarakan adalah salah satu klub terbesar di dunia. “Karena itu laga final Copa Del Rey ini bagiku sangat penting. Kemungkinan terpahit untuk laga ini adalah mengakhiri musim tanpa gelar jika kalah,” kata lajang beranak satu dari Polandia ini.

Dari kubu Barcelona, Guardiola mengaku tak pernah memikirkan soal taktik apa yang akan dipakai Madrid saat final CDR. Tapi ia tahu, bahwa Mourinho mampu menerapkan permainan yang berbeda dari duel terakhir keduanya yang berakhir seri.

“Di final semua bisa terjadi. Yang terpenting kami mengembangkan permainan kami dan menghargai lawan. Madrid bisa menerapkan taktik apa saja, tapi yang terpenting adalah esensi dan konsep yang selaras dalam merebut kemenangan,” kata pria berkepala plontos ini.

Dicontohkan, saat El Clasico jilid II di Santiago Bernabeu. Saat ini, Mourinho menerapkan sebuah strategi kontroversi, menarik semua pemain kebelakang dalam sistem total defens. Strategi itu mendapat kecaman dari beberapa pihak. Playmaker Blaugrana, Xavi Hernandez menilai El Real tak mengejar kemenangan. Bahkan legenda hidup Madrid, Alfredo Di Stefano menganggap laga Madrid versus Barcelona saat itu bak tikus melawan harimau.

Tudingan itu tak pelak lagi menjadi preseden tak mengenakan bagi Mou. Di satu sisi dituntut mempersembahkan gelar di musim ini, apalagi buat trofi Copa del Rey Real yang telah 17 tahun dinantikan. Namun di sisi lain, pelatih bergelar the Special One ini diminta untuk menunjukkan sebuah sistem permainan yang bersifat ksatria dan menarik dinikmati para pendukung Madrid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Lainnya