Senin, 02 Mei 2011

Evaluasi Lini Belakang Persija

Evaluasi Lini Belakang Persija
Stabilitas pertahanan Persija Jakarta terlihat labil mendekati ending Indonesia Super League (ISL) 2010/2011. Padahal, klub berjuluk Macan Kemayoran membidik satu tempat untuk jadi wakil Indonesia ke kompetisi Asia musim depan.

Ya, intensitas kebobolan skuad Macan Kemayoran cukup tinggi pada menit-menit kritis. Kondisi ini berbanding dengan produktivitas Persija, yang sebenarnya tercatat terbaik kedua di ISL 2010/2011 dengan modal surplus 19 gol.

Kandidat kuat juara Persipura menjadi tim paling produktif dengan surplus 37 gol. Bontang FC yang terpuruk di zona play-off berstatus tim dengan produktivitas terburuk -32 gol. Namun, catatan Persija itu menyisakan dilema.

Bambang ’Bepe’ Pamungkas dkk rapuh pada 10 menit akhir. Dari total kebobolan 23 kali,8 gol atau 34,78% lahir pada menit kritis. Persija juga terlihat ceroboh pada 10 menit ketiga dengan intensitas kebobolan 4 gol atau 17,39%.

Kecerobohan Bepe dkk terlihat jelas saat mereka menang 7-2 atas Persisam Putra Samarinda, 23 April lalu. Hanya melawan 10 pemain Persisam, klub idola suporter Jakmania itu justru kebobolan dua gol.

Bahkan, bek Persisam Joel Tsimi mengoyak gawang Persija pada menit ke-82, lalu selang empat menit berikutnya giliran striker Julio Lopez yang mencetak gol. Persisam bermain dengan 10 pemain setelah Djayusman Triasdi menerima kartu kuning kedua pada menit ke-66. Selain Persisam, dua gol pada menit akhir juga dilesakkan Persipura Jayapura dan Persijap Jepara.

”Tidak mudah menyeimbangkan produktivitas dengan pertahanan. Saat bermain ofensif, maka risikonya pertahanan menjadi terbuka. Kami membutuhkan kematangan situasi lebih. Konsentrasi tim kadang hilang pada menit akhir, apalagi saat leading. Dua gol Persisam itu merugikan,” kata Pelatih Persija Rahmad ’RD’ Darmawan, kemarin.

Status tiket Asia milik Persija belum sepenuhnya aman. PT Liga Indonesia (Liga) sebelumnya mengisyaratkan akan memberikan kuota Asia secara penuh kepada ISL. Jika jatah tiga tiket Asia musim depan tidak direvisi, kuota tersebut akan menjadi milik tiga besar ISL 2010/2011.

Juara berhak atas tiket Liga Champions Asia (LCA), lalu runner-up berstatus tim yang ikut play-off kompetisi nomor satu Benua Biru. Klub yang finis di urutan 3 berhak atas tiket langsung ke Piala AFC.

”Kami harus menghilangkan problem psikologi pemain. Kadang tingkat kepercayaan diri mereka berlebihan sehingga lengah. Masih ada enam laga sisa dan kami harus mengoptimalkannya. Peluang ke LCA belum tertutup,” tandas RD.

Untuk memenuhi target play-off LCA, Bepe dkk harus memenuhi target tambahan 18 angka. Enam angka tambahan berhasil mereka raih pada dua home sebelumnya. Setelah menang 7-2 atas Persisam, mereka juga menaklukkan Bontang FC dengan skor akhir 4-1 pada 27 April lalu.

Sekarang Persija ada di urutan 3 klasemen dengan nilai 40 dari 22 laga. Terpaut satu angka dari klub peringkat 2 Semen Padang dengan jumlah nilai sama. Namun, tertinggal tujuh angka dari Persipura.

”Perbaikan situasi masih mungkin, apalagi kami memiliki fisik bagus. Tingginya lesakan gol 30 menit menjelang bubar membuktikan kami sebenarnya memiliki stabilitas stamina,” ungkap eks arsitek Sriwijaya FC (SFC) ini.

Sampai laga ke-22, Bepe dkk sudah melesakkan 22 gol atau 52,39% mulai menit 60 sampai akhir laga. Seusai meraih enam angka dari dua home terakhir, Persija mengagendakan uji coba kontra Persituba Tulang Bawang di Stadion Tiuh Tohou Menggala, Lampung,sore ini.

Setelah menjalani laga itu, manajemen Persija mengistirahatkan mereka selama sepekan. Persija sebenarnya memiliki waktu jeda kompetisi ISL hampir sebulan. Mereka baru merumput saat dijamu SFC pada Minggu (29/5).

”Kami berusaha menjaga ritme dan kebetulan ada tawaran uji coba di Lampung. Setelah ini, pemain akan diistirahatkan dan baru aktif lagi pada Selasa (10/5). Harapannya, pemain menjadi bugar sepenuhnya sebelum menyelesaikan sisa laga di ISL,” tandas RD.

Bek tengah Persija selain diisi oleh duo defender impor, Pricous Emuejeraye dan Eric Arsene Bayemi, juga diisi sejumlah nama lokal. Sebut saja Ambrizal dan Hasim Kipauw. Namun, Toni Sucipto sering dipasang di central defender saat dibutuhkan atau pemain belakang lain cedera. Beberapa kali Toni memang difungsikan sebagai bek tengah. Namun, kondisi ini tidak menguntungkan bagi Persija.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Lainnya