Senin, 31 Oktober 2011

Suporter Arema Matangkan Pembelian Metro FC


Suporter Arema Indonesia, Aremania, terus mematangkan rencana membeli klub Metro FC. Jika rencana itu terwujud, nama klub Divisi Utama milik Pemerintah Kabupaten Malang itu akan diubah menjadi Arema Singo Edan. “Masalah nama baru sekadar usulan dari Aremania,” kata Sudarmaji, juru bicara Arema Indonesia kubu Rendra Kresna, kepada Tempo, Kamis, 27 Oktober 2011.

Saat ini, yang dilakukan pengurus Aremania adalah terus meminta penegasan komitmen pengelola Metro FC. Permintaan tersebut tampaknya disambut baik pengurus Metro. Adapun konsep pengelolaan klub dilakukan dengan pola yang berbasis suporter atau supporters direct.

Sudarmaji menjelaskan bahwa rencana pembelian Metro oleh Aremania dibahas lagi Rabu malam, 26 Oktober 2011. Pembicaraan berlangsung di Pendapa Pemerintah Kabupaten Malang, sekitar dua jam.

Dalam pertemuan tersebut muncul taksiran harga Metro FC senilai Rp 10 miliar. Harga ini disesuaikan dengan rencana pembiayaan untuk kompetisi tahun depan. Sebab, Metro belum punya stadion sendiri, maka Pemerintah Kabupaten Malang sebagai pemilik Stadion Kanjuruhan harus dilibatkan. Apalagi stadion tersebut merupakan kandang Arema. Penggunaan stadion tersebut oleh klub milik Aremania menggunakan pola sewa-menyewa.

Sudarmaji mengakui rencana pembelian Metro FC oleh Aremania didorong oleh sengketa dualisme kepengurusan Arema Indonesia antara kubu Pembina Yayasan Arema Rendra Kresna dan Ketua Yayasan Arema Muhamad Nur.

Jika rencana terwujud, maka Aremania menjadi suporter pertama di Indonesia yang mampu memiliki klub secara mandiri. Rencana pembelian Metro dilatari gairah industri sepak bola dunia yang menempatkan suporter sebagai stake holder terbesar. Spanyol dan Inggris menjadi kiblatnya.

Sebanyak 80 persen klub di Spanyol dikelola suporter. Barcelona merupakan contoh tersukses. Di Asia, contoh pengelolaan klub oleh suporter terbaik ada di Jepang, yaitu klub Yokohama FC.

Sebagai gambaran umum, Sudarmaji memaparkan bahwa teknis pengelolaan Metro oleh Aremania disesuaikan dengan business plan (rencana bisnis) per lima tahun agar tiap tahun tak terjadi krisis finansial seperti yang setiap tahun dialami Arema.

Manajemen Arema Indonesia kubu Rendra berkepentingan mempertemukan Aremania dengan pengelola Metro FC agar peran, fungsi, dan posisi tawar Aremania sebagai suporter meningkat hingga menjadi subyek dalam jagat sepak bola. Aremania harus menjadi pionir pengelolaan klub.

Sebenarnya, menurut sumber di kalangan Aremania, sejak dua-tiga bulan lalu, ada lima klub yang menawarkan sahamnya untuk dibeli Aremania. Dua klub berasal dari kompetisi Liga Super, PSPS Pekanbaru dan Deltras Sidoarjo. Tiga klub lagi dari Divisi Utama. Selain Metro, dua klub lainnya adalah Martapura FC dan Persid Jember.

Namun tawaran empat klub selain Metro terpaksa ditolak karena selain persoalan keuangan, keempat klub sangat parah, home base keempat klub tetap di tempat asalnya menjadi syarat yang paling berat untuk dipenuhi. Aremania berkeinginan home base klub dipindah ke Malang.

Akhirnya, Aremania mendekati Metro. Menurut Sudarmaji, Arema berharap dapat memiliki 51 persen saham Metro. Estimasinya, jika kebutuhan klub selama semusim kompetisi Rp 20 miliar, maka setiap koordinator wilayah Aremania punya 1 saham atau Rp 500 ribu dengan jumlah saham maksimal yang boleh dimiliki sebanyak 10 saham senilai Rp 5 juta. “Kepemilikan saham memang harus dibatasi agar tak terjadi aksi borong atas nama Aremania.”

Untuk menghindari aksi borong saham, maka yang mendaftarkan harus atas nama anggota atau koordinator wilayah. Konsepnya, Aremania mengadakan kongres, semacam rapat umum pemegang saham, untuk memilih pengelola. Peserta kongres mengajukan susunan eksekutif yang dipilih langsung oleh pemilik saham.

Manajer Metro FC, Made Arya Wedanthara, menjelaskan bahwa segenap pengurus bersedia membubarkan diri jika Aremania jadi membeli Metro. Mereka takkan merecoki Aremania agar mereka dimasukkan ke dalam kepengurusan baru.

Sudarmaji dan Made memastikan, rencana pembelian Metro FC merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Dalam catatan Tempo, tahun 2010, Metro mendapat kucuran dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) senilai Rp 6 miliar. Tahun ini, pemerintah dan DPRD setempat menyetujui pengucuran Rp 8 miliar sebagai dana pembinaan olahraga sepak bola. Metro dijatah mendapatkan Rp 6 miliar, sedangkan Rp 2 miliar untuk pembinaan klub junior dan pelaksanaan kompetisi lokal di bawah naungan PSSI Kabupaten Malang.

Namun jatah Rp 6 miliar sulit dicairkan karena mulai pertengahan tahun, pemerintah setempat berkomitmen menjadikan Metro sebagai klub profesional dengan keuangan yang mandiri. Tekad ini mendapat momentum sejak pemerintah pusat melarang penggunaan APBD untuk klub sepak bola profesional.
sumber :bolaindo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Artikel Lainnya